Etika Supir: Hindari Menunjukan Rasa Emosi dan Kesal kepada Customer

Driver Online sama seperti kita, Mereka adalah orang-orang yang mencari nafkah, dengan cara yang halal. Namun entah mengapa, belakangan ini perangai oknum-oknum GrabCar sangat tidak menyenangkan. Dengan sistem GrabShare yang dapat membuka kesempatan ‘sharing pengemudi’, tentu menjadikan aplikasi berkendara ini agak kurang favorit.

Banyak penumpang pertama yang merasa dirugikan, karena harus menunggu penumpang yang ‘nebeng’. Tidak jarang supir Grab yang terpaksa harus mengikuti sistem yang diberlakukan oleh perusahaan Grab, harus dimarah-marahi oleh penumpang pertama.

Persaingan semacam ini saya rasa kurang sehat, karena tujuan utama moda transportasi sudah melenceng. Seharusnya transportasi online memudahkan pelanggan, sekarang malah harus dibuat ribet dengan menjemput pelanggan kedua, dalam fitur GrabShare.

Fitur ini merupakan layanan berbagi kendaraan untuk masyarakat wilayah Jakarta dan sekitarnya. Perusahaan Grab katanya berupaya untuk mengakomodasi para penumpang dengan cara berbagi perjalanan. Dengan biaya yang terbagi, tentu akan membuat waktu menjadi lebih lama, bukan menjadi lebih cepat. Di dalam teorinya, perusahaan Grab pun memiliki alasan tertentu dengan menjalankan strategi ini.

Dengan berbagi perjalanan Grab memberikan iming-iming mengurangi polusi udara dengan melakukan sharing kendaraan. GrabShare menawarkan kepada pelanggan agar dapat membayar lebih hemat karena saling berbagi tarif dengan pengguna kedua.

Beberapa peraturan GrabShare pun akhirnya dibuat untuk mengakomodasi pelanggan. Secara teori, pengemudi akan menunggu maksimal 3 menit sebelum melanjutkan perjalanan. Namun secara realita, hal ini jarang sekali terjadi.

Pengalaman teman saya menggunakan GrabShare, membuat nya harus menunggu lebih dari 3 menit. Maka menurut hemat saya, strategi GrabShare ini merupakan blunder. Kita tahu, setidaknya ada tiga perusahaan besar yang bergerak di dalam bidang transportasi online.

Gojek, Uber, dan Grab, ketiga perusahaan besar ini tentu tidak mungkin hidup harmonis. Persaingan di antara ketiga perusahaan besar ini sangat kental. Kompetisi dilakukan, untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya. Promo-promo pun dilakukan, dengan tujuan untuk saling merebut pelanggan.

Lama kelamaan, penumpang pun mulai beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum, salah satunya jasa transportasi online. Berbagai fasilitas pun diberikan oleh perusahaan ini. Tentu di dalam hukum ekonomi, ketika permintaan naik, tingkat pelayanan pun harus naik.

Dalam persaingan ini, harus ada beberapa hal yang dikompromikan. Grab adalah satu perusahaan yang cukup mengkompromikan kepuasan pelanggan, untuk mendapatkan pelanggan. Maka tidak heran jika ada di antara pengemudi Grab juga saling bersaing. Mereka tidak bersaing merebut pelanggan.

Mereka bersaing untuk mendapatkan bintang atau tingkat kepuasan. Namun tekanan yang mereka terima, tidak sebanding dengan impian mereka. Kebanyakan para supir yang tertekan, seringkali membuat onar.

Sebenarnya saya kasihan kepada cara kerja seperti ini. Bahkan ada berita yang menulsikan ada seorang sopir GrabCar yang mengantuk, sampai-sampai penumpang terpaksa ambil alih pengemudinya. Bahaya sekali! Memang di dalam bekerja, kita harus bersaing untuk menjadi yang terbaik.

Namun menjadi hal yang salah jika persaingan, harus berujung kepada pemecatan. Entah apa yang terjadi belakangan ini, yang pasti para supir GrabCar sekarang mulai menunjukkan sikap kurang ajar terhadap customer.

Setelah saya selidiki, ternyata pada tahun 2016 bulan Juli, Grab mulai bekerjasama dengan Lippo, khususnya di dalam kemitraan platform pembayaran. Sumber berita tertera di bawah artikel ini. Antara Anthony Tan dan The Riady.

Rasanya dengan hal ini, terjawab sudah mengapa para supir mulai merasa tertekan. Di dalam sebuah bisnis, tentu kita tahu bahwa ada uang yang diputar di dalamnya. Mereka menggaji pekerja, atas dasar prinsip pendapatan yang mereka peroleh.

Perusahaan teknologi terdepan di Asia Tenggara bermitra untuk melakukan implementasi platform pembayaran universal. Platform pembayaran ini akan diintegrasikan dengan aplikasi Grab sebagai opsi mobile wallet untuk memungkinkan transaksi mobile sehari-hari yang mudah

Kemitraan ini memperluas jangkauan Grab di luar layanan transportasi; Pengguna akan dapat menggunakan aplikasi Grab untuk membayar layanan transportasi Grab dan layanan dan produk lintas perusahaan ritel Lippo

Mengutip dari KompasTekno, berikut penjelasan mengenai kerjasama antara Grab dan Lippo Group.

  • Kepada Tech In Asia, Direktur Lippo Group John Riady turut mengungkapkan bahwa Lippo adalah salah satu investor di Venturra Capital (VC) yang menanam modal di Grab sejak awal. Nilai investasi VC, dalam hal ini Lippo Group berada di dalamnya, sebesar 100 juta dollar AS (sekitar Rp 1,3 triliun).
  • Di Indonesia, Grab mengoperasikan tiga jenis layanan yang berbeda moda, yakni taksi (GrabTaxi), mobil rental (GrabCar), dan ojek (GrabBike).
  • Layanan GrabCar bersaing dengan penyedia jasa sejenis, yakni UberX. Sementara itu, layanan GrabBike merupakan rival berat Go-Jek.
  • Grab mengklaim bahwa GrabCar dan GrabBike telah menguasai pangsa pasar lebih dari 50 persen di segmen masing-masing.

Pada akhirnya, di dalam sebuah kerjasama antar dua raksasa (Grab dan Lippo), jika tidak ada regulasi yang pro pegawai, tentu akan menyebabkan tercekiknya para pekerja. Kerja sama harus menguntungkan kedua belah pihak, maka sudah menjadi lumrah jika kesejahteraan para supir, terkadang terbengkalai. Semoga ada perbaikan sistem mereka saat ini.

Jadi rasa-rasanya, tidak berlebihan jika kita sementara berkesimpulan bahwa tindakan supir-supir yang tidak sopan, dikarenakan kurangnya perhatian perusahaan Grab kepada mereka. Apakah karena kerjasama di dalam pembayaran e-money antara Lippo, milik keluarga Riady dan Grab membuat para pengemudi stress? Namun tekanan seperti apapun, tidak pantas juga seorang supir memaki penumpangnya, apalagi wanita.

Bagaimana dengan sistem penggajian mereka? Menurut kabar yang saya terima dari teman pengguna Grab, ada supir yang bercerita bahwa mereka dibayar dalam kurun waktu seminggu, bahkan dua minggu. Jika ada di antara para pembaca Seword yang memiliki kisah-kisah seperti ini, silakan masukkan ke kolom komentar. Semoga pihak Grab dan Lippo dapat lebih memperhatikan para pekerja mereka yang harus berjuang untuk menghidupi keluarga mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *